Tuesday, March 17, 2009

Nice Trip


DWI-02-09

Bau lembab menyengat, aroma khas yang menguap dari dalam bumi sehabis diguyur hujan menyambut kami. Bus besar berwarna Biru itu sudah menunggu, aku dan semua penumpang bergegas keluar dari pesawat yang menerbangkan kami kembali ke Pontianak, menuju terminal kedatangan Bandara Supadio, via bus besar tadi..

Hari ini minggu pukul 5 sore, perjalanan yang begitu singkat bagiku yang berniat memanfaatkan penerbangan ini guna sekedar membuang penat, terlebih Gusti seorang teman mengajakku berbincang-bincang sepanjang penerbangan, lengkap sudah durasi 35 menit di udara ku habiskan dengan ngobrol dengan mata yang terbuka-tertutup, aku ngantuk berat.

Pukul 08.00 pagi, rombongan kami yang terdiri dari aku, Mering, Catur dan ketiga mahasiswa Bonn, Dorina, Mathias dan Cristian dengan terburu-buru mengeluarkan semua barang bawaan dan meninggalkan Nuris di dalam mobil yang menjemput kami tadi.

Setelah proses cek in selesai kami segera menuju sebuah speedboat bernama Polly 2. Suasana di pelabuhan Senghi ini hiruk pikuk, penumpang yang sibuk dengan barang bawaan, pedagang asongan yang sibuk menjajakan barang-barang jualnya dan kami yang sibuk masuk ke kapal, tampaknya waktu untuk kami tidak banyak karena kapal bersiap-siap jalan.

Aku dan rombongan berhasil menemukan tempat duduk kami, di lantai dua kapal kecil ini, tidak terlalu sulit menemukan kursi-kursi kami yang sempat diduduki beberapa orang dan segera pindah setelah kutunjukkan tiket kami, sisi kanan semua kursi nyaris diisi oleh rombongan kami, hanya kursi nomor 13 yang kosong, karena Eka salah satu anggota rombongan kami membatalkan keikutsertaannya beberapa jam dari jadwal keberangkatan.

Catur memilih kursi bersebelahan langsung dengan jendela, aku dan Mering menempati 2 kursi yang tersedia disamping kursi Catur, dan dibelakang kami 3 orang bule Jerman duduk berderat, Dorina bersiap memasang earphone menghidupkan MP3 dan novel di tangan.

“Dwi, apa ini ruang untuk VIP?” Tanya Christian padaku dalam bahasa Indonesia dengan aksen German yang kental ”Yah!” jawabku singkat. Aku mengerti arah pertanyaan Christian, sebab tiket perjalanan dengan kapal kecil ini sudah kuperlihatkan kemarin padanya, sekedar mempertegas bahwa kami berada di ruang VIP, tentu dibayangan Christian kemarin adalah VIP standart negerinya.

Tapi ternyata di matanya, semua terlalu jauh dari bayangan semula, kulihat sekeliling, mencoba menyapu ruang yang kurang lebih berukuran 4x5, barang-barang penumpang diletakkan sekenanya disetiap sudut, terlihat semraut, dekorasi bunga imitasi disekeliling ruanganpun begitu usang bahkan beberapa bunganya sudah hilang, termasuk plastik biru tua lapisan kaca yang sebagian lepas, tampaknya ulah penumpang yang ingin melihat pemandangan laut di luar jendela dengan warna aslinya. Yah, aku pikir itu juga jadi pertanyaanku sebagai orang yang baru pertama kali menggunakan speedboat ini menuju ke Ketapang.

Ku pikir rombonganku sepakat untuk tidak persoalkan seberapa VIP nya ruangan kami ini, dan kami semua tampak bersemangat menjalani pengalaman baru kami ini. Catur begitu happy melihat sungai kapuas yang terhampar di balik jendela setelah kapal kami beberapa saat meninggalkan pelabuhan. Maka saat Mering dan Christian bersiap menuju dek luar di kapal untuk menikmati pemandangan, aku pun serta. Mering tak henti2 membidik apa saja dengan kameranya, tak lama Catur bergabung dengan kami serta beberapa orang yang mungkin dengan sengaja membayar untuk dapat ikut bersama kapal ini meski duduk di luar bersama barang-barang muatan kapal.

Christian juga bersemangat, bahkan mengkhayal tentang bajak laut, yang datang menghadang kami dalam perjalanan ini, matanya berjaga-jaga di rimbunan tanaman dan ditepian sungai, “siapa tau ada orang utan” katanya, dia juga menyimak secara seksama lagu sungai kapuas yang kuajarkan kepadanya, sesekali dia ikut terutama dibagian referent…”Sungai Kapuas punye cerite, bile kite minom aeknye..”

Setelah puas menikmati pemandangan di luar, aku kembali ke dalam, Catur juga ikut kembali, sementara Christian dan Mering masih di luar. Tak lama Dorina dan Mathias gentian yang menyusul keluar. Catur mulai berteriak kecil padaku “Mbak, lapaar!” Rasanya aku sudah belanja cukup camilan, bahkan dorina juga beli buah2n, tapi Catur yang belum sempat sarapan merasa butuh makanan berat, yah dia pingin makan nasi.
Aku agak menyesal melihat adekku kelaparan begitu, kenapa tidak dipersiapkan nasi dan lauk pauknya dari tadi malam. “makan camilan dulu lah”.

Perjalanan ini sengaja kami lakukan guna memenuhi undangan Pemerintah Kabupaten Ketapang via Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olah Raga, memberi pelatihan dalam tema “PERAN MEDIA DAN TEKNOLOGI INFORMASI UNTUK INDUSTRI PARIWISATA"
Aku dengan Tribune Institute ku juga Mering dan Catur serta teman2 Bonn akan mengisi pelatihan itu dengan tugas masing2, aku dan mering memberi materi termasuk Nuris yang menyusul keesokkan harinya dengan Pesawat, dengan Borneo Tribunenya.

Hampir pukul 12 siang, seorang abk membagi-bagikan makanan kepada para penumpang, Catur melonjat kegirangan…”asik!” katanya. Dalam hati aku kasian adikku itu, tapi aku juga tersenyum melihat tingkahnya yang terlalu bersemangat menerima bungkusan nasi itu. Sedikit nasi dengan lauk potongan kecil sosis dan nugget goreng dilengkapi tumis kacang panjang yang dipotong halus…Catur begitu lahap menyantapnya.

Aku memulai membuka bungkusan nasi milikku, di samping kananku Catur memperhatikan gerak gerikku sambil tersenyum, rupanya lauk yang tak berimbang dengan jumlah nasi itu membuat Catur berharap kerelaannku membagi lauk milikku..

Kulihat teman-temanku bule ku juga asik menyantap makanan pembagian dari kapal yang kami tumpangi, tampaknya mereka juga sangat lapar, memulai perjalanan pada pukul 8 pagi memang merepotkan membagi waktu untuk sarapan. Perjalanan di tengah siang bolong di atas laut luas ini relative tenang, nyaris tanpa ombak besar tak kutemukan ada penumpang yang mabuk laut, yang tampak justru banyak penumpang yang tidur dengan pulas dibuai laut…

Tidurku cukup baik tadi malam, tak sedikitpun aku mengantuk disaat sebagian penumpang tidur, dan niat ingin menikmati perjalanan perdana menggunakan kapal kecil ini, membawaku kembali ke dek luar, ditemani Catur dan juga Mering. Ada aroma laut yang tak bosan2 ku
hirup dalam-dalam, sejenak membawaku melupakan semua beban hidup, Mering masih setia dengan kameranya dan mengabadikan semua hal yang dianggapnya menarik..

Pukul 14.30, kapal kecil ini sampai di pelabuhan Ketapang, Hiruk pikuk pelabuhan menyambut kami.. Bersambung....

1 komentar:

Heri Sujono January 15, 2010 at 3:56 PM  

Sungai Kapuas memang indah lho... Mudah-mudahan pemerintah dan masyarakat Kalbar senantiasa dapat menjaganya sebagai salah satu urat nadi perekonomiannya.

About This Blog

About This Blog

  © Blogger template 'Contemplation' by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP