Tuesday, June 16, 2009

JUSTIN WISUDA TK


by dwi

Kemeja putih, celana panjang hitam dan dasi batik kecoklatan dengan ukuran yang disesuaikan dengan tubuh bocahnya membuat Justin berbeda hari ini, dia berlari kegirangan sepulang dari sekolah membawa sebuah kertas berbahan tebal, ok.., itu sebuah ijazah.

Hari ini memang istimewa, aku dan teman-teman yang bekerja di kantor yang berada dalam satu bangunan dengan rumahnya mengembang senyum melihat tingkah laku anak itu, Eka sang paman serta Yuni sibuk mengabadikan Justin bersama ijazah yang digengamnya erat, yah, di tahun ini juga dia akan jadi siswa sekolah dasar.

Justin yang berusia 6 tahun itu adalah putra pertama bosku, dia anak laki-laki yang pintar, kreatif dan kritis. Setiap pulang sekolah dia selalu menyapa kami di kantor, kadang berdua adeknya Anson. Kehadiran keduanya kadang memang dirasa menggangu, tapi buatku Justin lebih banyak menghibur.

Dengan kemampuan berbahasa Inggrisnya yang di atas kemampuan rata-rata anak seusia dia, membuatku merasa memiliki teman belajar. Dia bisa nyambung jika ku ajak bersiskusi banyak hal, berkat orangtuanya yang mendidik dengan baik Justin yang juga bernama Cang Fu Yung itu sedang tumbuh jadi anak yang cerdas, bahkan ketertarikkannya pada dunia angkasa luar membuatnya coba menerbangkan pesawat ulang alik yang dibuatnya dari kardus dengan menggunakan kipas angin, aku tersenyum karena ternyata dia gagal menerbangkan “pesawat itu”.

Buatku Justin juga mengajariku cara untuk berbagi, apapun makanan yang dimilikinya dibawa ke kantor untuk dibagi-bagikan, sulit buat kami untuk menolakkanya mengingat kesibukkan kerja cenderung membuat selalu lapar hihi…
Walaupun agak was-was dan ragu karena apapun yang dibawanya dari dalam rumah tanpa sepengetahuan siapapun termasuk pengasuhnya.

Suatu hari dia menulis menu dalam bahasa Inggris di sebuah kertas, ada beraneka macam jus buah-buahan yang ditulisnya untuk ditawarkan dan pada kolom disamping yang biasanya berisi harga bertuliskan “free”. So, ketika sibuk dan tengah konsentrasi pada layar loptopku, Justin memaksaku memilih satu menu jus, ok sekenanya ku pilih “Apple Jus”.

Selang beberapa menit, Justin datang dengan muka sedih sambil membawa semangkuk buah apel yang sudah dikupas, dia mengadu padaku bahwa dia tidak bisa blender sendiri untuk jus yang kupesan, jadi hanya buahnya saja yang bisa dia bisa berikan padaku, wow, aku heran bercampur kagum, tak ku sangka anak ini sungguh-sungguh berniat membuatkanku jus, ketulusan yang rasanya makin sulit ditemukan pada orang-orang dewasa.

Aku memang mengenal Justin dengan baik, bahkan saat dia masih berusia 9 bulan dalam kandungan mamanya yaitu ketika aku mulai bergabung dengan kantor lawyer papanya sampai sekarang, tak terasa sekarang dia sudah berusia 6 tahun, sudah punya adek pula.

Sebagai anak yang penuh semangat, dia seperti api yang menyala yang sekaligus mampu memancarkan semangat itu untuk orang yang melihatnya, semoga kamu benar-benar jadi anak pintar yang bermanfaat buat semua orang, memuliakan orangtua dan masih suka berbagi dengan tulus serta senantiasa perduli dengan sesama. Dan tante Dwi juga belajar dari kamu tentang semangat, tentang berbagi,tentang ketulusan dan tentu saja tentang hidup yang sesungguhnya ini, sobat kecilku…“JUSTINE PRAYAKSA CANG FU YUNG"

Thursday, March 19, 2009

MENEGAKKAN SUPREMASI HUKUM PERS

Rosalinda
Borneo Tribune, Pontianak

Di era reformasi salah satu tuntutan masyarakat adalah menegakkan supremasi yang menjadikan hukum sebagai panglima. Orientasi impletasi penegak hukum (law enforcement) secara tegas dan konsisten dan setiap pelanggaran harus diselesaikan melalui prosedur hukum yang berlaku.
Itulah isu strategis yang dikupas dalam workshop aparatur berspektif pers, Sabtu (28/2), di Hotel Gajahmada Pontianak.
Sudah sepuluh tahun perjalanan reformasi, namun demokratisasi dan transparansi masih jauh dari harapan bersama. Salah satu tuntutan masyarakat bahwa agenda yang harus dilaksanakan adalah penegakkan supremasi hukum. Menegakan supremasi hukum yaitu menempatkan hukum sebagai patokan tertinggi (panglima) dalam tingkah laku kehidupn masyarakat, bebangsa dan bernegara.
Artinya masyarakat kekuasaan pemerintah dan negara untuk tunnduk pada hukum tanpa adanya diskriminatif dan segala permasalahan hukum wajib diselesaikan melalui prosedur hukum yang berlaku. Menegakkan supremasi hukum adalah melaksanakan penegakan hukum secara tegas konsekuen dan konsisten dalam segala bentuk permasalahan hukum baik hukum pidana maupun hukum perdata.
Peran dan keberadaan pers dalam menegakan supermasi hukum di era reformasi. Artidjo Alkostar, dalam makalahnya mengatakan keberadaan pers sejatinya merupakan kebutuhan asasi setiap insan dan komunitas masyarakat, karena dengan adanya pers masyarakat dapat memperoleh informasi, melakukan kontrol sosial dan menyatakan pendapatnya.
Dengan demikian keberadaan pers berkorelasi dengan penegakan HAM, akan mencegah timbulnya pratik ketidakadilan dalam kehidupan politik, ekonomi dan hukum. Ketidakadilan, penyalahgunaan kekuasaan, korupsi dan segala benntuk kejahatan akan selalu memperlemah dan merugikakn masyarakat dan negara. Kuatnya kontrol sosial pers akan mempererat kohesi sosial masyarakat Indonesia yang majemuk dalam etnis dan plural dalam agama.
Untuk menegakkan keadilan dan kebenaran menuju kesejahteraan umum, dan mencerdaskakn kehidupan bangsa. Dari landasan ini lahirnya UU Pers No. 40 Tahun 1999, terlihat bahwa keberadaan pers yang bebas, merupakan kebutuhan asasi dalam suatu negara demokrasi. Merawat demokrasi yang telah dicapai setelah Orde Baru merupakan kewajiban asasi segenap komponen bangsa.
Berdasarkan surat edaran MA tanggal 30 Desember 2008, bagi pelindungan pers, Atmakusumah Astraatmadja, mengatakan, bahwa inti edaran itu hanya dua alenia, yakni berupa anjuran kepada ketua pengadilan agar meminta keterangan saksi ahli dari Dewan Pers dalam memproses delik pers. Alsannya karena merekalah yang lebih mengetahui seluk beluk pers tersebut secara teori dan praktik.
Dengan demikian meminta kesaksian ahli di bidang pers dari Dewan Pers, MA berharap akan memperolah gambaran objektif tentang ketentuan yang berhubungan UU pers. Walau sederhana, namun surat edaran ini mencerminkan prakarsa-prakarsa Dewan Pers selama ini untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang arti dan kedudukan pers sebagai tempat bagi semua pihak untuk menyampaikan aspirasi.
Untuk itulah peran aparat hukum dalam perselisihan pers sangat diperlukakan, menurut Bayu Wicaksono, sejak tahun 2003, tepatnya selesai perselisihan pemberitaan antara Majalah Tempo dengan pengusaha Tomy Winata, perselisihan pemberitaan marak di seantero Nusantara. Perselisihan ini adalah hukum pidana dan perdata, sehingga peran penegak hukum (Hakim, Kejaksaan dan Kepolisian) sangat vital. Mereka tidak hanya berperan dalam law enfforcement tetapi juga dalam memberikan penyadaran akan pentingnya menegakkan supremasi hukun.
Untuk itu, para penegak hukum harus mengerti benar bagaiman menempatkan pers sebagai pilar demokrasi. Sebagai konsekuensinya, penegak hukum harus menjaga kebebasan pers dengan pendekatan UU Pers dalam menyelesaikan sengketa pers. Karenanya diperlukan keahlian (skill) dan kemauan (will) serta cara pandang yang sama dalam menghadapi persoalan pers.
Menurut Bayu, ada tiga hal yang biasa terjadi dalam masalah pers. Kekerasan fisik, gugatan perdata, dan pidana. Bila sebelumnya orang lebih sering menggunakan kekerasan fisik ketika mereka berhadapan dengan pers.
”Tren kekerasan fisik naik menjelang Pemilu. Kini masyarakat lebih banyak menggunakan aparat hukum dan menggunakan aparat, untuk memojokkan pers,” kata Bayu.
Repotnya lagi, ketika membuat BAP, mekanisme hak jawab tidak dilakukan. Aparat menganggap mereka punya Protap sendiri. ”Nah, begitu sampai di pengadilan, biasanya kasus itu tak bisa dilanjutkan, karena hal itu dianggap tak lengkap,” kata Bayu.

Tuesday, March 17, 2009

Dori Mori Strowberry



DWI-02-03-09

Ku pikir tangisan malam perpisahan Dorina, sabtu malam kemarin adalah akhir kesedihanku dan kami semua atas kepulangan Dorina ke negeri asalnya, Jerman.

Ternyata itu salah, rasa sedih yang mendalam membuyarkan niatku untuk tidak menanggis ketika mengantarkannya ke bandara Supadio. Dorina memelukku begitu erat dengan linangan air mata, tangisku tak bisa kubendung, betapa aku sungguh sedih kehilangan sahabatku itu. Kesedihan yang adalah juga milik Nuris, Mathias, Eka, Catur dan Christian yang ikut mengantarkan Dorina meninggalkan Pontianak, juga semua teman-teman lain di kantorku terutama di Borneo Tribune.

Hari ini adalah saat dimana Dorina sebagai salah satu mahasiwa Bonn University yang magang di Borneo Tribune meninggalkan Pontianak, setelah 6 bulan kedatangannya, sejak oktober tahun lalu. Hubunganku dengannya begitu dekat, Dorina suka memanggilku ”Mommy” karena aku dianggapnya seperti ibu-ibu yang over protective pada anak-anaknya, alias cerewet hahaaa.., tapi dia tahu bahwa niatku baik. Perlu waktu yang tidak terlalu lama bagi kami untuk saling memahami dengan budaya dan pola hidup yang jauh berbeda, yang akhirnya mengantarkan kami pada rasa sedih mendalam takkala akan berpisah.

Dorina yang biasa ku panggil Dori Mori Strowberry itu tidak hanya istimewa buatku, tapi dia juga adalah sosok yang begitu dekat dengan Nuris yang kerap ia panggil ”Daddy”, bahkan dengan semua orang yang mengenalnya di Pontianak dia begitu berkesan. Dia gadis cantik, ”sangat ladies”, tapi jago bermain futsal, dia pribadi yang menyenangkan siapa saja. Di mataku dia seperti adikku sendiri. Aku pernah bilang padanya bahwa dia punya rumah di Pontianak, karena rumahku adalah rumahnya juga. Dan kami berjanji akan saling mengunjungi.

Subhaallah, indahnya persabahatan. Kami tidak lagi memperdebatkan perbedaan, yang kami tahu bahwa kami saling menyayangi.

Siang menjelang, Dorina menelpon sesaat setelah pesawatnya landing di Batam, ia melanjutkan perjalanannya ke Singapore untuk bertemu kakak perempuannya sebelum kembali ke Jerman, aku terlalu sensitif hari ini, rasanya ada yang hilang dari hatiku..

Bye and see you again honey,
We love you Dori Mori Strowberry…

Nice Trip


DWI-02-09

Bau lembab menyengat, aroma khas yang menguap dari dalam bumi sehabis diguyur hujan menyambut kami. Bus besar berwarna Biru itu sudah menunggu, aku dan semua penumpang bergegas keluar dari pesawat yang menerbangkan kami kembali ke Pontianak, menuju terminal kedatangan Bandara Supadio, via bus besar tadi..

Hari ini minggu pukul 5 sore, perjalanan yang begitu singkat bagiku yang berniat memanfaatkan penerbangan ini guna sekedar membuang penat, terlebih Gusti seorang teman mengajakku berbincang-bincang sepanjang penerbangan, lengkap sudah durasi 35 menit di udara ku habiskan dengan ngobrol dengan mata yang terbuka-tertutup, aku ngantuk berat.

Pukul 08.00 pagi, rombongan kami yang terdiri dari aku, Mering, Catur dan ketiga mahasiswa Bonn, Dorina, Mathias dan Cristian dengan terburu-buru mengeluarkan semua barang bawaan dan meninggalkan Nuris di dalam mobil yang menjemput kami tadi.

Setelah proses cek in selesai kami segera menuju sebuah speedboat bernama Polly 2. Suasana di pelabuhan Senghi ini hiruk pikuk, penumpang yang sibuk dengan barang bawaan, pedagang asongan yang sibuk menjajakan barang-barang jualnya dan kami yang sibuk masuk ke kapal, tampaknya waktu untuk kami tidak banyak karena kapal bersiap-siap jalan.

Aku dan rombongan berhasil menemukan tempat duduk kami, di lantai dua kapal kecil ini, tidak terlalu sulit menemukan kursi-kursi kami yang sempat diduduki beberapa orang dan segera pindah setelah kutunjukkan tiket kami, sisi kanan semua kursi nyaris diisi oleh rombongan kami, hanya kursi nomor 13 yang kosong, karena Eka salah satu anggota rombongan kami membatalkan keikutsertaannya beberapa jam dari jadwal keberangkatan.

Catur memilih kursi bersebelahan langsung dengan jendela, aku dan Mering menempati 2 kursi yang tersedia disamping kursi Catur, dan dibelakang kami 3 orang bule Jerman duduk berderat, Dorina bersiap memasang earphone menghidupkan MP3 dan novel di tangan.

“Dwi, apa ini ruang untuk VIP?” Tanya Christian padaku dalam bahasa Indonesia dengan aksen German yang kental ”Yah!” jawabku singkat. Aku mengerti arah pertanyaan Christian, sebab tiket perjalanan dengan kapal kecil ini sudah kuperlihatkan kemarin padanya, sekedar mempertegas bahwa kami berada di ruang VIP, tentu dibayangan Christian kemarin adalah VIP standart negerinya.

Tapi ternyata di matanya, semua terlalu jauh dari bayangan semula, kulihat sekeliling, mencoba menyapu ruang yang kurang lebih berukuran 4x5, barang-barang penumpang diletakkan sekenanya disetiap sudut, terlihat semraut, dekorasi bunga imitasi disekeliling ruanganpun begitu usang bahkan beberapa bunganya sudah hilang, termasuk plastik biru tua lapisan kaca yang sebagian lepas, tampaknya ulah penumpang yang ingin melihat pemandangan laut di luar jendela dengan warna aslinya. Yah, aku pikir itu juga jadi pertanyaanku sebagai orang yang baru pertama kali menggunakan speedboat ini menuju ke Ketapang.

Ku pikir rombonganku sepakat untuk tidak persoalkan seberapa VIP nya ruangan kami ini, dan kami semua tampak bersemangat menjalani pengalaman baru kami ini. Catur begitu happy melihat sungai kapuas yang terhampar di balik jendela setelah kapal kami beberapa saat meninggalkan pelabuhan. Maka saat Mering dan Christian bersiap menuju dek luar di kapal untuk menikmati pemandangan, aku pun serta. Mering tak henti2 membidik apa saja dengan kameranya, tak lama Catur bergabung dengan kami serta beberapa orang yang mungkin dengan sengaja membayar untuk dapat ikut bersama kapal ini meski duduk di luar bersama barang-barang muatan kapal.

Christian juga bersemangat, bahkan mengkhayal tentang bajak laut, yang datang menghadang kami dalam perjalanan ini, matanya berjaga-jaga di rimbunan tanaman dan ditepian sungai, “siapa tau ada orang utan” katanya, dia juga menyimak secara seksama lagu sungai kapuas yang kuajarkan kepadanya, sesekali dia ikut terutama dibagian referent…”Sungai Kapuas punye cerite, bile kite minom aeknye..”

Setelah puas menikmati pemandangan di luar, aku kembali ke dalam, Catur juga ikut kembali, sementara Christian dan Mering masih di luar. Tak lama Dorina dan Mathias gentian yang menyusul keluar. Catur mulai berteriak kecil padaku “Mbak, lapaar!” Rasanya aku sudah belanja cukup camilan, bahkan dorina juga beli buah2n, tapi Catur yang belum sempat sarapan merasa butuh makanan berat, yah dia pingin makan nasi.
Aku agak menyesal melihat adekku kelaparan begitu, kenapa tidak dipersiapkan nasi dan lauk pauknya dari tadi malam. “makan camilan dulu lah”.

Perjalanan ini sengaja kami lakukan guna memenuhi undangan Pemerintah Kabupaten Ketapang via Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olah Raga, memberi pelatihan dalam tema “PERAN MEDIA DAN TEKNOLOGI INFORMASI UNTUK INDUSTRI PARIWISATA"
Aku dengan Tribune Institute ku juga Mering dan Catur serta teman2 Bonn akan mengisi pelatihan itu dengan tugas masing2, aku dan mering memberi materi termasuk Nuris yang menyusul keesokkan harinya dengan Pesawat, dengan Borneo Tribunenya.

Hampir pukul 12 siang, seorang abk membagi-bagikan makanan kepada para penumpang, Catur melonjat kegirangan…”asik!” katanya. Dalam hati aku kasian adikku itu, tapi aku juga tersenyum melihat tingkahnya yang terlalu bersemangat menerima bungkusan nasi itu. Sedikit nasi dengan lauk potongan kecil sosis dan nugget goreng dilengkapi tumis kacang panjang yang dipotong halus…Catur begitu lahap menyantapnya.

Aku memulai membuka bungkusan nasi milikku, di samping kananku Catur memperhatikan gerak gerikku sambil tersenyum, rupanya lauk yang tak berimbang dengan jumlah nasi itu membuat Catur berharap kerelaannku membagi lauk milikku..

Kulihat teman-temanku bule ku juga asik menyantap makanan pembagian dari kapal yang kami tumpangi, tampaknya mereka juga sangat lapar, memulai perjalanan pada pukul 8 pagi memang merepotkan membagi waktu untuk sarapan. Perjalanan di tengah siang bolong di atas laut luas ini relative tenang, nyaris tanpa ombak besar tak kutemukan ada penumpang yang mabuk laut, yang tampak justru banyak penumpang yang tidur dengan pulas dibuai laut…

Tidurku cukup baik tadi malam, tak sedikitpun aku mengantuk disaat sebagian penumpang tidur, dan niat ingin menikmati perjalanan perdana menggunakan kapal kecil ini, membawaku kembali ke dek luar, ditemani Catur dan juga Mering. Ada aroma laut yang tak bosan2 ku
hirup dalam-dalam, sejenak membawaku melupakan semua beban hidup, Mering masih setia dengan kameranya dan mengabadikan semua hal yang dianggapnya menarik..

Pukul 14.30, kapal kecil ini sampai di pelabuhan Ketapang, Hiruk pikuk pelabuhan menyambut kami.. Bersambung....

Peserta Gandrung Belajar Menulis


Andry-23-02-09

Berbagai pertanyaan seputar jurnalistik maupun gaya penulisan yang baik serta professional deras mengalir. Sebut saja bagaimana membuat berita sesuai dengan rumus 5W+1H, struktur berita itu seperti apa, bagaimana cara menentukan angle berita yang baik dan menarik. Serta teknik pemotretan yang baik. Sehingga mereka bisa menghasilkan suatu karya yang baik dan bisa memjepret foto yang bisa berbicara.

Mering mencoba menjawab semua pertanyaan yang dilontarkan oleh peserta. Selain menjawab pertanyaan tersebut secara spontan, dirinya juga kerap kali memberikan contoh jawaban melalui laptop miliknya yang memang terkoneksi jaringan internet dan layar monitor. Sehingga peserta bisa mendengar sekaligus mencernanya melalui screen di hadapan mereka.
Sesi dialog interaktif pun terjalin secara aktif antara pengampu dan peserta. Peserta terlihat merasa puas dengan paparan yang disampaikan para pembicara. Semoga ilmu pengetahuan yang mereka peroleh melalui pelatihan ini bermanfaat bagi dirinya dan bermanfaat terhadap proses sosialisasi beragam kekayaan potensi pariwisata di Ketapang.. Sehingga public di domestic maupun mancanegara menjadi tahu akan kekayaan potensi tersebut dan bersedia untuk hadir di Ketapang menikmati potensi wisata tersebut. Melalui goresan pena para peserta pelatihan ini.
Hari terakhir, workshop beragendakan beberapa sesi acara. Dimulai dengan 'Tribune Institute dan Kepariwisataan' yang disampaikan oleh Ketua Umum Tribune Institute, Dwi Syafriyanti, SH, MH dengan moderator AA Mering, SH. Dilanjutkan dengan sesi 'Menulis untuk Promosi Pariwisata' yang dipaparkan oleh Direktur Tribune Institute, AA Mering dan saya sebagai moderatornya.
Setelah itu acara dilanjutkan dengan 'Study Comperative Pariwisata Manca Negara' yang dipaparkan oleh Mahasiswa Bonn University, Mathias dan Christian dan dipandu oleh Dwi Syafriyanti dan AA Mering. Kemudian dilanjutkan dengan 'Demo Fun' oleh Dorina, Dwi dan Mering. Dan yang terakhir adalah penutupan Workshop bertema 'Peran Media dan Teknologi Informasi untuk Industri Pariwisata Ketapang, oleh Kepala Disbudpar Ketapang, Yudo Sudarto, SP.M.Si.

Bahasa Jerman di Untan International Office


Iwan Siswanto-20-02-09

Tim Borneo Tribune dan Tribune Institute yang tampil adalah Pemimpin Redaksi H Nur Iskandar, Ketua Yayasan Tribune Institute, Dwi Syafriyanti, A. Alexander Mering, dan ketiga praktikan tersebut. Dari Untan, pemimpin International Office, Elfira dan stafnya Eka dan Sutarmadji.

Ketiga lembaga berkumpul di Untan untuk membicarakan sketsa MoU itu yang sejak rapat pertama pada Januari sudah disiapkan oleh Pak Elfira dan Tribune Institute. Perjanjian itu diharapkan untuk menjalankan kerja sama semua partai tersebut di atas. Di antara lain ada tujuan pertukaran mahasiswa, dosen dan staf, termasuk juga penelitihan serta publikasi bersama-sama.
Kami mahasiswa-mahasiswi dari Bonn sangat senang dengan pendirian hubungan formal dengan partai Untan pula, karena begitu ini kami boleh memakai perpustakaan Untan untuk menelitih dan mencari dosen dan mahasiswa-mahasiswi Untan yang memeriksa topik yang sama dengan topik ketertarikan kami.
Tiba-tiba pada rapat hari Rabu itu ada dua orang Indonesia yang masuk ke ruang kumpulan yang sangat menggembirakan kami praktikan dengan berbahasa Jerman yang sudah lancar. Pak Eka dan Pak Kurniawan selama sekitar 5 tahun kuliah di Jerman, satu di Freiberg dekat Dresden di Jerman Timur, dan satu di Aachen yang tidak jauh dari Köln dan Bonn di Jerman Barat. Sebab itu banyak bahasa Jerman dipakai di salah satu ruangan Untan.
Inilah keadaan yang dulu aneh sekali untuk kami, karena sampai sekarang bahasa Jerman belum pernah dipakai dengan orang Indonesia. Juga pemimpin International Office yang masih baru senang sekali dengan situasi ini. Bersama-sama kami tertawa ketika Dorina bertanya apa yang paling disukai mereka di Jerman, jawabannya: Oktoberfest - perayaan bir besar itu yang terjadi pada setiap bulan Oktober di München!
Kumpulan berikutnya telah ditetapkan di bawah atap Untan International Office berupa informal pada tanggal 27 Februari. Kami praktikan dari Jerman menanti-nantikan pertemuan tersebut untuk asyik bisa berbahasa Jerman dengan orang Indonesia lagi.

Monday, March 16, 2009

Pelajaran Yang Baru Dimulai


Dwi

Menjelang pagi, sesaat setelah beranjak dari tempat tidur, yang pertama kuingat adalah gelas plastik bekas minuman mineral yang di dalamnya terdapat bibit tanaman, dimana gerangan tanaman yang baru kukenal bernama sarang semut itu kuletakkan. Oh, rupakan ada yang memindahkannya ke dalam tong sampah, dengan tergopoh-gopoh ibuku yang penuh kasih itu memperlihatkan gelas platik yang kumaksud,

”ini kah yang mbak maksud?” bibit tanaman itu masih ada, syukurlah rupanya sempat disangka sampah oleh ibuku, ”iya” jawabku selembut mungkin pada bunda yang telah melahirkanku itu.
Tanaman herbal bernama Sarang semut atau bahasa latinnya Myrmecodi Pendans itu, untuk pertama kali ku lihat di kebun yang terletak di belakang rumah kediaman Pak Florus, beliau adalah guru tempat kami bertanya, tentu saja bibit yang kumasukan dalam gelas plastik itu adalah pemberiannya, kebun itu tidak terlalu luas tapi terdapat aneka tanamanan di dalamnya, dari mulai cabe sampai dengan pohon hutan seperti buah pekawai sejenis durian, dan yang paling menarik adalah gazebo kecil dengan kolam ikan di bawahnya.
Gazebo itu biasa kami pergunakan untuk bertemu dan berbincang dalam rangka mengembangkan lembaga yang kami mimpikan menjadi besar dan berguna buat semua orang, ada sensasi unik saat asik berdiskusi tiba-tiba ikan di kolam berenang liar dan sesekali melompat ke permukaan kolam, suaranya indah, simponi alam…
Suatu hari pak Florus menyuguhkan minuman yang berasal dari rebusan akar tanaman bernama sarang semut, yang menurutnya berkhasiat untuk menghindari dan mengobati banyak penyakit termasuk efek lain berupa kesegaran tubuh, tidak ada yang istimewa dari rasanya, sedikit kelat tapi benar-benar terasa segar sesaat setelah meneguknya, tanaman yang dipergunakan sebagai sarang semut ini di dalamnya terdiri dari labium yang digunakan semut sebagai liang untuk melakukan aktivitasnya, dan aku tertarik untuk menanamnya dirumahku.
Maka dipagi ini, sembari berbincang dengan ibuku yang tengah mempersiapkan sarapan kumasukkan kayu-kayu hancur sebagai media tempat bibit sarang semut tadi, Pak florus berpesan bahwa medianya memang potongan kayu kecil, dan pertumbuhannya cukup lama, paling tidak butuh waktu lima tahun untuk bisa mengambil manfaatnya.
Dari beberapa referensi diketahui bahwa secara empiris sarang semut dapat menyembuhkan beragam penyakit ringan dan berat, seperti kanker dan tumor, asam urat, jantung koroner, wasir, tbc, migrant, rematik dan leukemia dan menurut penelitian ahli Bioteknologi LIPI, Zat Utama yang dimiliki sarang semut adalah lavonoid, tannim dan olifenol.
Memasukkan potongan kayu sembari menanam bibit sarang semut ke dalam wadah yang ku buat dari gelas plastik sisa dari ulang tahun adekku catur dua tahun lalu membawa pikiranku ke beberapa tahun yang lalu, saat smp/sma aku hobby menanam berbagai jenis umbi-umbian seperti singkong atau ubi rambat di tanah kosong yang terletak di sebelah rumah kami.
Sekalipun tanpa kemampuan teori bertani, pada saat memulai menanam aku tak tanggung-tanggung menggolah tanah dengan mencanggul terlebih dahulu dan dilanjutkan dengan menanami umbi-umbian. Dalam baru 1 atau 2 bulan aku sudah sangat ingin panen, tak jarang aku menggali jika ada umbi yang terkadang nonggol sedikit kepermukaan tanah, padahal umbi itu masih sangat kecil belum saatnya dipanen, dan kisah ini begitu lekat di benak ibuku yang sering diungkapkannya untuk berkisah tentang ketidak-sabaranku memperoleh hasil dari kerja kerasku di kebun kecil itu. Padahal saat panen tiba tentunya sangat menyenangkan karena semuanya memang sudah waktunya, ini pastilah soal kesabaran untuk menunggu.
Maka saatku rapikan bibit sarang semut ini, mungkin ada baiknya kujadikan langkah awal yang baik untukku belajar tentang kesabaran, bersabar untuk memeliharanya dan menunggunya besar dengan sempurna agar hasilnya dapat ku ambil secara sempurna pula, sekalipun harus menunggu lima tahun, dan ini pastilah soal kesabaran untuk menunggu. Aku tersenyum, betapa luas jagat raya ini, betapa berhamparan pelajaran tentang kebaikan yang bisa diambil. Dan pagi ini telah mengajariku bahwa kesabaran dalam hal apapun senantiasa dibutuhkan bahkan tuhanpun beserta orang-orang yang sabar.

About This Blog

About This Blog

  © Blogger template 'Contemplation' by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP